Fenomena minsteriusnya rezeki seolah tidak ada habis habisnya untuk dikupas. Banyak buku yang telah membahas tema ini, kalau kita pergi ke toko buku maka akan dengan mudah kita jumpai buku berjudul, Amplop Rezeki, Doa-doa Kunci Rezeki, Menjemput Rezeki, Mendobrak Pintu Rezeki, Agar Rezeki Datang Sendiri, Pembuka Pintu Rezeki, dan beberapa judul buku lain yang juga membahas bagaimana misteriusnya tema ini. Maka ketika pertama kali melihat judul buku ini timbul pertanyaan apa yang istimewa dari buku ini dibandingkan dengan buku buku di atas sehingga menjadi pembicaraan banyak orang. Apakah karena isinya yang memang menarik atau karena sang penulis merupakan motivator muda yang sedang naik daun yang setiap seminarnya selalu dibanjiri oleh banyak orang? Sebagaimana diketahui penulis buku ini, Ippho Santosa, merupakan pelopor implementasi otak kanan dalam menjalankan usahanya. Kemudian ditambah lagi setelah memegang bukunya sendiri dan mulai membaca isinya.
Wednesday, October 12, 2011
Resensi Buku: 7 Keajaiban Rezeki
Fenomena minsteriusnya rezeki seolah tidak ada habis habisnya untuk dikupas. Banyak buku yang telah membahas tema ini, kalau kita pergi ke toko buku maka akan dengan mudah kita jumpai buku berjudul, Amplop Rezeki, Doa-doa Kunci Rezeki, Menjemput Rezeki, Mendobrak Pintu Rezeki, Agar Rezeki Datang Sendiri, Pembuka Pintu Rezeki, dan beberapa judul buku lain yang juga membahas bagaimana misteriusnya tema ini. Maka ketika pertama kali melihat judul buku ini timbul pertanyaan apa yang istimewa dari buku ini dibandingkan dengan buku buku di atas sehingga menjadi pembicaraan banyak orang. Apakah karena isinya yang memang menarik atau karena sang penulis merupakan motivator muda yang sedang naik daun yang setiap seminarnya selalu dibanjiri oleh banyak orang? Sebagaimana diketahui penulis buku ini, Ippho Santosa, merupakan pelopor implementasi otak kanan dalam menjalankan usahanya. Kemudian ditambah lagi setelah memegang bukunya sendiri dan mulai membaca isinya.
Monday, August 8, 2011
CSR dan keberlangsungan usaha
"The first concern of a company is the happiness of the people connected to it. If the people do not feel happy, ... that company does not deserve to exist." (Ishikawa)*
Good Company or Great Company
“There is a difference between a good company and great company. A good company offers excellent products and services. A great company also offers excellent products and services but also strives to make the world a better place.”(William Clay Ford, Jr., Chairman of The Board and CEO)
Keinginan perusahaan untuk menjadi lebih baik hampir bisa dipastikan ada pada diri para pemimpin perusahaan. Mereka ingin melihat perusahaan yang dipimpinnya lebih baik dari periode sebelumnya atau bahkan kalau bisa menunjukkan kinerja terbaik sepanjang sejarah perusahaan tersebut. Keinginan kuat seorang pemimpin dan kemampuan untuk mentransformasikan gagasan dia ke seluruh lini perusahaan akan mengispirasi semua orang yang ia pimpin untuk menterjemahkannya menjadi tindakan nyata.
Friday, July 22, 2011
Atasan Pusing Menghadapi Bawahan
Kesibukan kantor terhenti sejenak ketika ada pesan masuk melalui Yahoo Messenger. Seorang teman yang sat ini posisinya sudah menjadi seorang kepala kantor mengeluhkan tentang perilaku karyawannya yang susah untu diajak maju. Teman saya tersebut kemudian bercerita mengenai perilaku mereka yang cenderung malas, kurang memiliki inisiatif, dan menghindar dari tanggungjawab.
Mendengar keluhan teman tersebut tiba tiba terlintas dalam pikiran saya teori motivasi kerja yang dikemukakan oleh Douglas McGregor, seorang Profesor di MIT, yang memperkenalkan teori motivasi yang dikenal sebagai teori X dan Y. Dalam teorinya McGregor menyampaikan pandangan seorang manajer terhadap bawahannya. Karyawan dengan tipe X, dalam pandangan manajer, cenderung berperilaku malas, menghindari tugas, kurang bertanggungjawab, dan pasif. Sedangkan karyawan dengan tipe Y cenderung berperilaku sebaliknya, mereka cenderung proaktif, senang dengan tanggungjawab, trengginas, senang dilibatkan dalam kegiatan kegiatan yang menantang. Meminjam konsep McGregor tersebut maka masalah yang dihadapi oleh rekan saya tersebut bisa dikategorikan dalam masalah motivasi kerja, bawahan memiliki kecenderungan berperilaku tipe X. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengatasi bawahan yang memiliki kecenderungan tipe X?
McGregor menyampaikan nasehat bahwa jika kita menjumpai karyawan dengan kecenderungan tipe X, maka sebaiknya kita bisa menunjukkan sikap autoritarian, mengontrol penyelesaian tugas secara ketat, memperbanyak frekuensi koordinasi, orientasi pada target waktu penyelesaian pekerjaan. Tetapi McGregormenyatakan bahwa tipe X dan Y bisa diibaratkan seperti pendulum. Jadi jika bawahan terindikasi memiliki kecenderungan tipe X, bukan berarti tidak memiliki kecenderungan tipe Y. Oleh sebab itu, atasan sebaiknya lebih cermat memperhatikan perilaku bawahaanya. Bagaimana menurut anda?
Subscribe to:
Posts (Atom)
