Saturday, April 21, 2012

Dasar Pelaksanaan Choaching

Seorang executive disamping dituntut untuk menunjukkan kinerjanya yang cemerlang, juga secara tidak langsung dituntut agar mampu memberikan coaching kepada bawahannya. Kemampuan tersebut akan menjadi salah satu tolok ukur kemampuan leadershipnya. Dalam prakteknya memberikan coaching bukan sesuatu yang mudah. Seorang executive mungkin sudah membaca bertumpuk tumpuk buku mengenai coaching dan bagaimana cara memberikan coaching tetapi ketika dipraktekkan ternyata belum seperti yang diharapkan. Menurut Peter Dean, persoalannya bukan pada keterampilan memberikan coaching tetapi lebih pada aspek dasar dari dalam diri si executive sendiri. Dalam artikelnya yang dimuat di wharton magazine 2012, disebutkan bahwa ada tujuh aspek dasar yang harus dikembangkan oleh seorang executive.

Ketujuh aspek dasar tersebut adalah:
  1. Keseimbangan antara keterampilan manajerial dan leadership 
  2. Keseimbangan antara ego dan rasa empati 
  3. Keseimbangan antara kepatuhan terhadap peraturan dan pencapaian hasil yang baik 
  4. Keseimbangan antara professional power dengan personal power 
  5. Keseimbangan antara keterbukaan kepada orang lain dengan feedback untuk diri sendiri. 
  6. Perilaku positif di dalam tim untuk penyelesaian tugas dan berhubungan dengan sesama angota tim 
  7. Persepsi kebermaknaan kerja dan sistem kerja yang sebenarnya yang mengelilingi karyawan. 
 Seorang executive yang mampu menunjukkan ketujuh aspek dasar tersebut akan dengan mudah mengembangkan coaching dalam aktivitas kerja sehari hari. Bagaimana pendapat anda?

Artikel asli dapat anda baca di sini

Friday, March 2, 2012

Manajemen SDM Dalam Lintas Sejarah I

Manajemen SDM yang dikenal saat ini merupakan hasil metamorfosis dari konsep pengelolaan karyawan di masa lalu. Awal mula munculnya gagasan pengelolaan SDM ini bermula dari lahirnya revolusi industri di Inggris abad ke 19. Produksi barang dan jasa yang semula dilakukan di kampung-kampung dan bersifat manual berubah drastis ketika ditemukan teknologi mesin uap sehingga bisa menggerakkan turbin dan kemudian menggerakkan mesin mesin produksi. Karena menggunakan mesin maka proses produksi menjadi lebih cepat dan biaya produksinya dapat ditekan sedemikian rupa sehingga bisa jauh lebih murah jika dibandungkan dengan produk yang sama yang diproduksi oleh home industry. Revolusi industri menjadikan masyarakat desa maupun kota berbondong bondong mendaftakan diri agar dapat bekerja di pabrik karena home industri tidak lagi bisa diandalkan untuk menopang kehidupan sehari hari karena kalah bersaing dengan barang yang dihasilkan oleh pabrik. Maka muncullah kelas buruh yang menyerakah tenaga, pikiran, dan waktunya kepada para majikan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih pasti dalam setiap bulannya.

Wednesday, February 29, 2012

Organisasi sebagai open system

Ketika mempelajari perilaku organisasi seringkali kita menemukan istilah organisasi sebagai open system. seringkali hal ini dipahami menggunakan pemahaman umum mengenai open system, atau bahkan banyak juga yang belum paham apa yang sebenarnya dimasud dengan open system ini. Ensiklopedia online terbesar di dunia pun, yakni Wikipedia, belum menjelaskan istilah open system ini dalam konteks manajemen SDM. Untuk itu tujuan dari tulisan ini adalah akan mnejelaskan mengenai terminologi tersebut dengan maksud agar para meninat HR dapat mengambil pemahaman yang benar mengenai istilah tersebut.