Banyak perusahaan saat ini mulai menyadari potensi dampak dari persaingan bebas ASEAN yang akan di mulai tahun 2015 tahun depan. Masa dimana pada saat itu terjadi pesaing bisnis bukan hanya berasal dari dalam negeri saja tetapi dari semua perusahaan yang sejenis yang beroperasi di kawasan ASEAN. Setiap perusahaan dapat menjual produk mereka ke pasar tanpa ada hambatan dari negara lain. Maka dalam kondisi seperti itu perusahaan yang paling inovatif dan efisien lah yang akan memenangkan persaingan. Perusahaan yang mulai sadar kemudian melakukan pembenahan-pembenahan internal agar daya saing perusahaan dapat meningkat. Mereka mulai memperbaiki pengelolaan produksi/operasinya, mencari terobosan dalam pemasaran produk, merubah kebijakan pengelolaan finansialnya agar dapat dipastikan bahwa setiap rupiah yang dia keluarkan akan menambah nilai dari produk yang dihasilkan perusahaan, serta meninjau ulang kontribusi karyawan dalam pencapaian sasaran perusahaan.
Showing posts with label hcm. Show all posts
Showing posts with label hcm. Show all posts
Monday, June 23, 2014
Friday, June 13, 2014
Bagaimana Melakukan Penataan SDM?
Sebuah perusahaan yang sedang berkembang saat ini sedang berbenah utuk meningkatkan kinerja perusahaannya. Perusahaan tersebut berdiri sudah cukup lama, tetapi telah sekian tahun seakan tidur, tidak dikelola secara baik. Namun sekarang dengan manajemen baru perusahaan mulai bangkit dan berbenah diri untuk meningkatkan kinerjanya. Salah satu aspek yang menjadi titik tekan dalam peningkatan kinerja adalah dengan peningkatan produktivitas. Bagaimana caranya produktivitas pabrik bisa ditingkatkan sehingga volume penjualan dapat meningkat. Diharapkan jika volume penjualan naik maka profit perusahaan juga akan naik dan daya kompetitif perusahanakan semakin meningkat. Kedua hal (profit dan daya saing) tersebut akan menjadi modal perusahaan untuk terus tumbuh dan berkembang. Peningkatan produktivitas pada umumnya diterjemahkan dengan peningkatan output produksi dan efisiensi penggunaan sumberdaya.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa usaha peningkatan output dan efisiensi bertujuan agar profit dan daya saing perusahaan semain meningkat dari waktu ke waktu. Usaha tersebut kemudian biasanya dituangkan dalam strategi bisnis perusahaan, baik berupa strategi bisnis jangka pendek dan jangka panjang. Strategi bisnis seringkali dibaratkan seperti kita melempar langkah-langkah bisnis tersebut ke lantai dan kemudian kita memilih yang terbaik supaya tujuan bisnis kita terwujud. Dengan strategi bisnis tersebut perusahaan berharap dapat menggerakkan penggunaan sumberdaya yang dimiliki untuk diarahkan pada peningkatan output dan efisiensi input. SDM sebagai salah satu sumber daya yang dimiliki perusahaan memainkan peran dalam pencapaian tujuan perusahaan. Karena dengan SDM yang dimiliki maka perusahaan dapat mengolah sumberdaya lain sesuai dengan yang diinginkan. SDM yang diharapkan perusahaan adalah SDM yang memiliki kualitas dan kualitas yang sesuai. Kualitas SDM yang diharapkan tercermin dari tingkat kompetensi yang dimiliki karyawan untuk melaksanakan tugas. Kuantitas SDM yang diharapkan adalah jumlah SDM ideal yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
Monday, May 19, 2014
Bagaimana Berkompromi Dengan Slacker?
Karena tema ini menarik bagi saya, maka kali ini saya akan kutipkan artikel yang ditulis oleh Carolyn O’Hara yang dimuat di blog.hbr.org. Ulasan mengenai bagaimana memahami rekan kerja pemalas (slacker) ini cukup menggelitik dan di sini saya mencoba mengadaptasi artikel tersebut dalam konteks Indonesia sehingga diharapkan dapat lebih mudah dipahami. Jika anda ingin membaca artikel yang asli, silakan klik link di ujung tulisan ini.
Tidak ada yang suka dengan rekan kerja yang malas dalam bekerja. tetapi ketika kita menghadapi kenyataan bahwa rekan kerja kita ternyata sering pulang lebih awal, susah untuk diajak menepati deadline pekerjaan, tidak memberikan dukungan penuh terhadap kesuksesan pekerjaan, sebagian besar kita tidak bisa menentukan atau mengambil langkah yang terbaik. Apakah harus bicara dengan atasan? atau anda biarkan dan anda mengurusi diri anda sendiri?
Apa kata ahli Coaching?
Kita semua pasti memiliki pengalaman bekerja dengan seseorang yang mungkin bisa dikatakan kurang bertanggungjawab karena perilakunya seperti - seorang rekan yang nongkrongin Facebook sepanjang hari, mengambil jam makan siang istirahat lebih dari dua jam, dan tidak pernah memenuhi deadline pekerjaan yang telah ditetapkan. Tapi walaupun menjengkelkan, tetapi Anda tidak harus menjadi seperti polisi pengawas perilaku kecuali sikap malas (slacking) mereka secara fisik dan material mempengaruhi pekerjaan Anda. Susan David , pendiri Harvard / McLean Institute of Coaching, mengatakan : " Jika rekan kerja Anda berperilaku slacking dan tidak mempengaruhi kemampuan Anda untuk melakukan pekerjaan dengan baik atau kemampuan Anda untuk maju dalam organisasi , maka sebaiknya Anda fokus pada pekerjaan Anda sendiri . " tetapi jika pekerjaan Anda menjadi susah dan berat karena perilaku rekan Anda , saatnya untuk bertindak . Berikut ini adalah cara untuk menangani situasi sulit ini .
Labels:
behavior,
co-worker,
coaching,
experiences,
hbr,
hcm,
health,
HR,
hrm,
hubungan baik,
human,
Human Capital,
Human Resources,
industri,
Innovation,
slacker
Monday, May 5, 2014
Apa Yang harus Dilakukan Sebelum Memutuskan Menambah Karyawan?
Pertanyaan:
Ada pertanyaan dari sebuah perusahaan mengenai permasalahan yang sedang mereka hadapi. mereka akhir akhir ini sering mendapatkan surat dari bagian produksi yang ada di daerah yang isinya adalah permohonan ijin untuk melakukan penambahan karyawan. Berbagai macam alasan dikemukakan oleh unit usaha seperti banyaknya karyawan yang memasuki masa pensiun, penambahan peralatan, sampai dengan kesulitan untuk mendelegasikan pekerjaan kepada bawahan karena tidak adanya bawahan yang dianggap kompeten. Kemudian mereka bertanya kira kira apa yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan?
Jawaban:
Kondisi demikian terjadi karena dua hal. Pertama, perusahaan belum memiilki standar formasi yang jelas dan disepakati oleh semua pihak. Standar formasi adalah jumlah maksimal karyawan untuk masing masing pekerjaan yang dibutuhkan untuk menjalankan proses bisnis secara afektif dan efisien. Jika perusahaan belum memiliki standar mengenai jumlah formasi karyawan maka setiap bagian dapat mengembangkan standar sendiri-sendiri menurut kebutuhan mereka. Kedua, perusahaan telah memiliki standar formasi tetapi standar tersebut telah obsolete (kadaluwarsa), maksudnya standar formasi tersebut tidak lagi cocok dengan tuntutan implementasi strategi bisnis perusahaan. Misalnya strategi perusahaan 2 tahun ke depan adaah ekspansi pasar, maka dengan standar formasi yang ada saat ini jumlahnya menjadi tidak relevan lagi mengingat bagian produksi harus menambah kapasitasproduksinya sehingga mungkin perlu menambah shift kerja dan bagian pemasaran juga perlu menambah marketingnya sehingga dapat menjangau pangsa pasar yang lebih luas. Kondisi tersebut kemudian yang mendorong mereka untuk meminta tambahan karyawan agar target yang ditetapkan atas mereka dapat tercapai.
Manajemen seringkali tidak bisa menjawab permintaan tersebut karena memang tidak ada dasar untuk menolak ataupun menyetujui. Di sisi lain manajemen mendorong untuk menggunakan SDM yang efisien agar menghemat biaya tetap, di sisi lain tuntutan dari bagian untuk menambah karyawan agar target yang ditetapkan oleh perusahaan dapat tercapai. Sebagai jalan keluar maka bagian SDM bisa melakukan penyempurnaan standar formasi terlebih dahulu sebelum memutuskan menyetujui atau menolak permintaan penambahan karyawan tersebut. langkah-langkah penyemprunaan standar formasi adalah sebagai berikut:
Labels:
Aksi Korporasi,
efisiensi,
execution,
experiences,
hcm,
HR,
hrm,
human,
Human Capital,
IHCS,
inovation,
organisasi,
standar formasi,
standar kompetensi,
struktur organisasi,
workforce planning
Friday, November 8, 2013
Servant Leadership dalam Era Post Industry
Munculnya era learning revolution
Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa saat ini tengah
terus berlangsung perubahan besar dalam kehidupan manusia, yakni perubahan era
industry ke era informasi/pengetahuan. Entah sampai kapan proses perubahan ini
akan berakhir. Perubahan yang besarnya
mungkin hampir menyamai perubahan yang diakibatkan oleh revolusi industri yang
terjadi pada akhir abad ke 19, yaitu dari yang era masyarakat agraris (agricultural society) yang kemudian
berubah ke masyarakat era industry (industrial age) atau yang lebih dikenal
sebagai masa era revolusi industri. Era
industry dimulai dengan ditandai oleh ditemukannya mesin uap sehingga proses
produksi yang sebelumnya bersifat rumahan dan memiliki skala usaha yang kecil
berubah menjadi bersifat pabrikan dan mass
production atau berskala besar. Pada saat itu perubahan yang terjadi hampi
meliputi segala sendi masyarakat baik itu ekonomi, social, politik, dan budaya.
Perubahan yang terjadi saat ini juga
hamper sama yakni perubahan dari era
industri ke era post industry atau era
pengetahuan/informasi, meminjam istilah yang dikemukakan Alvin Tofler dalam
bukunya The Third Wave. Penulis juga
termasuk salah seorang yang tidak menyadari hal ini sampai seorang pemikir manajemen, Daniel H,
Kim, menya takan dalam suatu konferensi Human Capital Management di Singapura
2012 tahun lalu. Begitu banyak tanda-tandanya yang telah muncul saat ini
sehingga saya merasa penting untuk menuliskannya agar kita sama-sama paham dan
mampu menyikapinya secara cerdas
Alvin Toffler pada tahun 1980 meramalkan bahwa gelombang
ketiga dari perubahan lingkungan social umat manusia akan segera terjadi secara
mendunia, perubahan dari era industry ke era pengetahuan/informasi. Perubahan
tersebut akan ditandai bergesernya peta kekuatan dunia dari negara yang
memiliki industry yang massif ke negara yang memiliki industry dengan basis
ilmu pengetahuan dan informasi yang maju . Negara yang memiliki basis pengetahuan dan informasi
yang tinggi tidak otomatis menjadi neara yang kuat tetapi dengan pengtahuan dan
informasi tersebut mereka bisa terus belajar oleh sebab itu era pengtahuan dan
informasi tersebut juga disebut sebagai era pembelajaran (leraning era/learning revolution) dimana terjadi ledakan proses
pembelajaran karena semakin terbukanya akses ilmu pengetahuan dan informs melalui
media internet. Perubahan era tersebut kemudian juga diikuti dengan perubahan mental
model masyarakat yang sangat berbeda dengan mental model yang ada dalam
masyarakat era industri. Agar memiliki pemahaman yang sama maka saya kutipkan
definisi dari mental model. Mental model
adalah cara pandang manusia mengenai
bagaimana antar komponen dalam
lingkungan nyata ini saling berhubungan atau memiliki keterkaitan.
Pemahaman mengenai mental model ini akan membantu untuk memprediksi perilaku dan menyusun pendekatan untuk memecahkan masalah.
Labels:
hcm,
HR,
Human Capital,
Human Resources,
kader,
karakter,
kepemimpinan,
leadership,
melayani,
pemimpin,
SDM,
servant
Wednesday, September 12, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)