Wednesday, October 12, 2011

Resensi Buku: 7 Keajaiban Rezeki




Fenomena minsteriusnya rezeki seolah tidak ada habis habisnya untuk dikupas. Banyak buku yang telah membahas tema ini, kalau kita pergi ke toko buku maka akan dengan mudah kita jumpai buku berjudul, Amplop Rezeki, Doa-doa Kunci Rezeki, Menjemput Rezeki, Mendobrak Pintu Rezeki, Agar Rezeki Datang Sendiri, Pembuka Pintu Rezeki, dan beberapa judul buku lain yang juga membahas bagaimana misteriusnya tema ini. Maka ketika pertama kali melihat judul buku ini timbul pertanyaan apa yang istimewa dari buku ini dibandingkan dengan buku buku di atas sehingga menjadi pembicaraan banyak orang. Apakah karena isinya yang memang menarik atau karena sang penulis merupakan motivator muda yang sedang naik daun yang setiap seminarnya selalu dibanjiri oleh banyak orang? Sebagaimana diketahui penulis buku ini, Ippho Santosa, merupakan pelopor implementasi otak kanan dalam menjalankan usahanya. Kemudian ditambah lagi setelah memegang bukunya sendiri dan mulai membaca isinya.

Buku ini muncul di tengah maraknya orang berbicara mengenai keajaiban rezeki. Rezeki senantiasa dikaitkan dengan keterlibatan otoritas Allah Swt dalam segala hal yang kita nikmati, yang secara umum sering diasosiasikan sebagai pendapatan atau harta. Oleh sebab itu isi dari buku ini sangat kental suasana religiusitasnya. Hal tersebut nampak dari dikutipnya pernyataan Imam ‘Ali r.a. dalam sampul bukunya. Ippho mengemas buku ini dalam kerangka pikir otak kanan, dalam menjabarkan tema-tema yang ada di dalamnya pun menggunakan ciri khas berpikir otak kanan yakni tidak secara sistematis sebagaimana buku buku pada umumnya. Hal tersebut diakui secara jujur oleh  penulisnya karena memang ingin menunjukkan bahwa buku juga bisa dikemas secara kreatif dan mengedepankan improvisasi. Pada awal buku ini dijelaskan bahwa apa yang di tulis buku ini merupakan pengalaman pribadi penulis yang kemudian diformulasikan menjadi model kesuksesan untuk menjemut rizki. Terbaca jelas pengaruh pengalaman religius penulis dalam menuangkan konsepnya ini sehingga tidak berlebihan jikan dikatakan bahwa fondasi penulisan buku ini berasal dari ajaran agama islam
Menurut Ippho memahami fenomena keajaiban rezeki hanya bisa  dilakukan dengan cara mengaktifkan otak kanan kita atau rights brain. Rights dalam bahasa indonesia berarti kanan dan kebetulan juga berarti benar. Jadi jalan yang harus ditempuh untuk menyingkap keajaiban rezeki ini adalah dengan kita mengasah kemampuan otak kanan kita, yang dipahami sebagai bagian otak yang dapat memunculkan perilaku kreatif, cara berpikir non linear, dan penuh improvisasi. Setelah diyakinkan bahwa otak kanan akan sangat membantu mempercepat rezeki, kemudian pembaca diajak untuk masuk ke dalam model kesuksesan yang berlipat.
Model kesuksesan yang ditawarkan Iphho dalam buku ini terdiri dari 7 (tujuh) pilar yang yang menjadi penyangga untuk munculnya keajaiban rezeki. Pilar pertama adalah pilar perisai diri. Yang dimaksud dengan perisa diri adalah pemahaman mengenai potensi diri. Pemahaman tersebut bisa terjadi jika kita paham mengenai apa saja kesuksesan yang telah kita raih selama hidup ini. Dengan memahami hal tersebut maka kita dapat menduga bahwa mungkin talenta kita ada pada bidang dimana kita seringkali mengalami kesuksesa. Ketika kita telah memahami talenta diri kita, maka hal tersebut akan sangat untuk mengarahkan langkah kita untuk memulai usaha yang akan menjadikan diri kita mendapatkan kesuksesan. Pilar kedua disebut pilar dua bidadari. Maksu dari dua bidadari ini adalah dukungan keluarga dalam hal ini adalah ibu dan istri. Daam setiap aktivitas usaha kita sebisa mungkin senantiasa meminta restu dan doa kepada ibu serta juga kerelaan istri. Ibu yang yang najdi pintu keridaan Allah Swt harus senantiasa kita prioritaskan dan kita minta doanya agar perjalanan kita dalam berusaha diberi kemudahan dan kelancara. Kerelaan istri juga dianjurkan untuk senantiasa digapai kaena dengan kerelaan istri maka apapun aktivitas yang kita lakukan akan dijalani secara tenang dan sungguh sungguh.
Pilar ketiga adalah pilar golongan kanan. Sebagaimana yang menjadi tema pokok dalam konsepsi akselerasi kesuksesan yang ditawarkan Ippho, penggunaan otak kanan merupakan syarat utama dalam memulai berusaha dan menghadapi tantangan tantangan dalam bisnis. Cara mudah agar menjadi golongan kana adalah dengan banyak banyak bergaul dengan orang-orang dengan kecenderungan menggunakan otak kanan dalam menjalani aktivitas usahanya. Pilar keempat adalah pilar simpul perdagangan.  Perdagangan adalah pintu gerbang utama untuk mendapatkan rezeki, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa pintu rezki itu ada 10 dan 9 pintunya adalah pintu perdagangan. Jadi jika ingin mempercepat rezeki maka dianjurkan untuk masuk dalam dunia perdaganyan karena disanalah peluang untuk mendapatkan rezeki sangat besar.  Pilar kelima adalah perisai langit. Yang dimasud dengan perisan langit adalah pertolongan dari Allah Swt. Untuk mengakselerasi datangnya rezeki maka tidak bisa lepas dari campur tangan Allah Swt. Maka dari itu dianjurkan untuk senantiasa memohon kemudahan rezeki dengan berdoa dan amalan yang diperintahkan dan menjauhi larangannya. Di dalam pilar inilah sedekah sangat dianjurkan karena Allah Swt berjanji untuk melipatgandakan kebaikan dari setiap sedekah yang kita lakukan. Pilar keenam adalah pilar pembeda abadi, sebagaimana produk yang dipasarkan maka setiap usaha yang kita lakukan perlu dipikirkan daya bedanya. Daya beda atau distinctive ini penting untuk digarap secaa serius agar dalam berusaha orang akan dengan mudah membedakan anda dengan pengusaha lainnya. Pilar terakhir adalah pilar ikhtiar, maksudnya adalah usaha terus menerus pantang menyerah walaupun banyak halangan dan rintangan menghadang usaha kita. Perlu disadari bahwa setiap usaha tidak akan begitu saja dilalui dengan mudah, akan banyak halangan dan rintngan yang akan menghadang untuk itu kita tidak boleh menyerah dan tetap harus terus berihktiar.
Kekuatan buku iniadalah bahwa isinya merupakan refleksi dari pengalaman riil penulis sehingga apa yang ditulis menjadi mudah untuk dibayangkan implementasinya. Dimensi transental dalam buku ini begitu kuat dimana setiap tahapannya senantia terkait dengan tuntunan agama walaupun ditafsirkan sesua dengan pemahaman penulis. Ada dua hal yang perlu menjadi catatan bagi pembaca buku ini, pertama adalah jangan sampai seolah olah dengan mengandalkan otak kanan saja dan meninggalkan otak kiri kita akan sukses. Manusia yang paripurna adalah ketika bisa menggunakan seluruh potensi otaknya secara maksimal disertai dengan petunjuk agama. Kedua potensi otak tersebut harus digunakan secara penuh karena akan saling mendukung dan melengkapi dalam setiap tantangan hidup. Kedua, jangan sampai segala amalan agama yang kita jalani seperti berbakti kepada orang tua, menjaga ridha istri, bersedekah, dan aktivitas amal shalih lainyaa hanya semata mata diniatkan untuk memperlancar rizki kita. Cukuplah peringatan Allah Swt di dalam Al Quran dalam Surat Hud [11]: 15-16 menjadi pengingat kita semua, bahwa  “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16). Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat. Buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mencoba berusaha, tetapi perlu dilandasi niat yang tulus mengharap ridha Allah Swt saja.